0
[postlink]http://iamxeruvy.blogspot.com/2009/11/come-back.html[/postlink]hah. . . dah lama gak update lagi, jadi pengen rajin ngeblog lg kayak
dulu, tapi gak ada waktu buat meluangin sdikit waktu buat bloging. . .
hufh. . .

Come back. . .

0
[postlink]http://iamxeruvy.blogspot.com/2009/01/mas-sukin-sip-hansip.html[/postlink]Ada 2sejoli, yg laki2 namanx SUKIN mreka hbs nnton layar tancep ber2.
Trs plngnx kemlaman.
dtgh jln dihadang pnjahat
Krna SUKIN tkut.dia lari tinggalkn cweknya.
saat cwek diperkosa oleh pnjahat
si cwe hnya bs panggil2 nama kekasihnya
MASSUKIIN,,
MASSUKIIN,, JANGAN CABUT. Si pnjahat pun trs brsemangat Mndapat
dorongan sperti itu.
Tiba2 ada hansip lewat
krna nafasnya
trsendat2
si cw hnya bs brkata.. siip..siip..
Siiip..!
Ya hnsip pun cuek!
He..he..

Mas Sukin... Sip Hansip...

0
[postlink]http://iamxeruvy.blogspot.com/2008/12/tips-menghilangkan-komedo-secara-alami.html[/postlink]-alat n bahan:
1. Putih telur
2. Kapas

-cara penggunaan:
1. Kocok putih telur sampe' berbusa
2. Ambil kapas n tempelin tu kapas ke putih telur tsb
3. Setelah itu tempelin kapas tsb pd bag.muka yg ada komedonya.

lebih optimal kalo dipakek sblm tidur lalu pagi2nya dibuka, insyaALLAH
komedonya pd nempel semua dikapas tsb
-NB:
*jgn ditempelkan pd daerah yg ada jerawatnya
*ati2 ya krn amis...
*aku pernah coba n ternyata berhasil


''GUT LAK YA n SEMOGA BERMANFAAT''

Tips Menghilangkan Komedo Secara Alami - Ampuh Bgt

2
[postlink]http://iamxeruvy.blogspot.com/2008/11/seorang-pria-menulis-kaligrafi-china.html[/postlink]
Ru Anting, seorang pria berusia 56 tahun asal kota Luoyang, provinsi Henan China berhasil mengeluarkan airmata dengan cara menekan hidungnya dan menyemprotkannya ke kanvas dari saluran airmata di bawah matanya.

Bukan itu saja, sambil mendemonstrasikan kemampuannya tersebut di Lotus World park di Shanshui city, Guangdong, Ru juga menuliskan empat karakter dalam huruf China, bertuliskan 'Fu Ru Dong Hai' ('Fortune as vast as the sea'), pada kanvas yang dilapisi kertas merah.

Ru seperti diceritakannya pada jaringan berita China News, menemukan kemampuannya yang tak biasa tersebut sejak kecil ketika berenang di sungai.

"Kadangkala saya kemasukan air ketika berenang, dan sesekali secara tidak sengaja, saja berhasil menyemburkan air yang masuk tersebut melalui mata saya. Semua teman saya yang melihat kejadian tersebut langsung shock," demikian katanya.

Namun, kemampuannya ini tak sempat dikembangkannya lagi sampai tahun 1990. Saat itu, karena Ru kehilangan pekerjaannya di sebuah perusahaan lokal setelah bekerja 20 tahun di perusahaan tersebut. Saat itulah, Ru makin leluasa mengasah bakat anehnya tersebut.

Sejak saat itu, dia mulai banyak waktu berlatih untuk menghasilkan semprotan airmata yang baik. Dan setelah tiga tahun berlatih, Ru saat ini mampu menembakkan airmata-nya hingga 10 kaki atau sekitar 3,04 meter dihitung dari matanya saat melontarkan airmata tersebut.

Seorang Pria Menulis Kaligrafi China Dengan Air Mata

0
[postlink]http://iamxeruvy.blogspot.com/2008/11/misteri-deja-vu.html[/postlink]Hampir semua dari kita pernah mengalami apa yang dinamakan deja vu: sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa peristiwa baru yang sedang kita rasakan sebenarnya pernah kita alami jauh sebelumnya. Peristiwa ini bisa berupa sebuah tempat baru yang sedang dikunjungi, percakapan yang sedang dilakukan, atau sebuah acara TV yang sedang ditonton.

Lebih anehnya lagi, kita juga seringkali tidak mampu untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci. Yang kita tahu hanyalah adanya sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan peristiwa baru itu.

Keanehan fenomena deja vu ini kemudian melahirkan beberapa teori metafisis yang mencoba menjelaskan sebab musababnya. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa deja vu sebenarnya berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Bagaimana penjelasan ilmu psikologi sendiri?

Terkait dengan Umur dan Penyakit Degeneratif

Pada awalnya, beberapa ilmuwan beranggapan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.

Selain itu, sebelumnya Chris Moulin dari University of Leeds, Inggris, telah menemukan pula penderita deja vu kronis: orang-orang yang sering dapat menjelaskan secara rinci peristiwa-peristiwa yang tidak pernah terjadi. Mereka merasa tidak perlu menonton TV karena merasa telah menonton acara TV tersebut sebelumnya (padahal belum), dan mereka bahkan merasa tidak perlu pergi ke dokter untuk mengobati ‘penyakit’nya karena mereka merasa sudah pergi ke dokter dan dapat menceritakan hal-hal rinci selama kunjungannya! Alih-alih kesalahan persepsi atau delusi, para peneliti mulai melihat sebab musabab deja vu ke dalam otak dan ingatan kita.

Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada tikus mungkin dapat memberi pencerahan baru mengenai asal-usul deja vu yang sebenarnya. Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan.

Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.

Menciptakan ‘Deja Vu’ dalam Laboratorium

Salah satu hal yang menyulitkan para peneliti dalam mengungkap misteri deja vu adalah kemunculan alamiahnya yang spontan dan tidak dapat diperkirakan. Seorang peneliti tidak dapat begitu saja meminta partisipan untuk datang dan ‘menyuruh’ mereka mengalami deja vu dalam kondisi lab yang steril. Deja vu pada umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di mana tidak mungkin bagi peneliti untuk terus-menerus menghubungkan partisipan dengan alat pemindai otak yang besar dan berat. Selain itu, jarangnya deja vu terjadi membuat mengikuti partisipan kemana-mana setiap saat bukanlah hal yang efisien dan efektif untuk dilakukan. Namun beberapa peneliti telah berhasil mensimulasikan keadaan yang mirip deja vu.

Seperti yang dilaporkan LiveScience, Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘ingatan palsu’. Para partisipan diperlihatkan sebuah gambar, namun mereka diminta untuk membayangkan sebuah gambar yang lain sama sekali dalam benak mereka. Setelah dilakukan beberapa kali, para partisipan ini kemudian diminta untuk memilih apakah suatu gambar tertentu benar-benar mereka lihat atau hanya dibayangkan. Ternyata gambar-gambar yang hanya dibayangkan partisipan seringkali diklaim benar-benar mereka lihat. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.

LiveScience juga melaporkan percobaan Akira O’Connor dan Chris Moulin dari University of Leeds dalam menciptakan sensasi deja vu melalui hipnosis. Para partisipan pertama-tama diminta untuk mengingat sederetan daftar kata-kata. Kemudian mereka dihipnotis agar mereka ‘melupakan’ kata-kata tersebut. Ketika para partisipan ini ditunjukkan daftar kata-kata yang sama, setengah dari mereka melaporkan adanya sensasi yang serupa seperti dejavu, sementara separuhnya lagi sangat yakin bahwa yang mereka alami adalah benar-benar deja vu. Menurut mereka hal ini terjadi karena area otak yang terkait dengan familiaritas diganggu kerjanya oleh hipnosis.

misteri Deja Vu